This is my passion, what’s yours?

•29 April, 2009 • 2 Comments

I can still recall our last summer
I still see it all
In the tourist jam, round the Notre Dame
Our last summer
Walking hand in hand

(ABBA – Our Last Summer)

Tiap manusia pasti punya passion *aduh, apa padanan Bahasa Indonesianya ya?* sendiri. Ada yang passion terbesarnya di musik sehingga bisa panik dan marah setengah mati kalau gitar dan pianonya tergores dikit, tapi adem ayem waktu pacarnya jatuh dari motor. Ada yang passion terbesarnya di politik, jadinya kalau ngomongin soal politik, politikus tenar aja mulutnya kalah berbusa. Oke, udah mulai lebai. Revenons à nos moutons. Kembali ke laptop jalan yang benar.

Kalau aku, passion terbesarku ada di language. Langue. Bahasa. Oke, mungkin itu cukup menjelaskan kenapa aku mantap meminang milih jurusan Bahasa & Kebudayaan. Mungkin kalau masuk Psikologi, Komunikasi, atau HI *yang merupakan incaran kebanyakan temanku selama SMA*, think I’d still survive. Tapi lain halnya kalau aku masuk Manajemen atau Akuntansi. Aku liat banyak banget angka dalam satu halaman aja udah langsung migrain *ini serius*, gimana mau bertahan di sana, coba?

Continue reading ‘This is my passion, what’s yours?’

Short wake-up call

•13 April, 2009 • Leave a Comment

My my, at waterloo napoleon did surrender
Oh yeah, and I have met my destiny in quite a similar way
The history book on the shelf
Is always repeating itself

(ABBA – Waterloo)

Gila, lama juga gue hiatus rupanya… Yah, maklum, ‘dihajar’ sama tugas dan UTS sampe babak belur gini *standar banget alesannya*

Mumpung masih inget nih, gue mau sedikit menyinggung soal pemilu legislatif yang diadain 9 April kemaren. Di saat temen-temen gue pada rame ngomongin partai apa dan caleg mana yang bakalan dicontreng, gue adem ayem aja karena gue golput. Bukannya gue nggak mau menggunakan hak gue. Bukannya gue namanya ngga masuk DPT. Nama gue terdaftar di DPT di rumah gue di Sidoarjo, kartu pemilihnya juga ada. Cuman gue nggak bisa pulang karena kondisi keuangan gue mengkhawatirkan banget. *hiks* Ya sudahlah. Semoga pas pemilu pilpres gue bisa ikut ambil bagian.

Terusss, akhir-akhir ini gue rasa gue udah bener-bener kecanduan lagu-lagu ABBA. Sebenernya, dari dulu gue udah ngefan lagu-lagu grup asal Swedia yang beken tahun 70an ini, tapi bukan fan berat juga. Baru setelah gue nonton film ini nih, gue langsung nggak bisa tidur malem dengan nyenyak sebelum ngedengerin seenggaknya tiga track lagu yang jadi soundtrack film itu tapi yang versi asli. Saking frekuentatifnya ngedengerin, lagu-lagu itu suka terngiang-ngiang di kepala gue dengan suara menggelegar, terutama yang ini: Waterloo, Does Your Mother Know, sama Our Last Summer.

Gue juga semakin sama semakin eneg sama yang namanya sinetron. Udah ceritanya sama semua *cuman beda setting beda pemain beda judul*, ceritanya seringkali cacat logika, diputernya pas jam prime time semua pula! Cape deh gue nonton tivi isinya sinetroooooon mulu. Aduh aduh… Mending kalo ceritanya edukatif. Yang ada malah cerita-cerita macam anak miskin tyang sebenernya anak orang kaya yang lama ilang, rebutan harta, konflik super ajaib menantu-mertua, rebutan cowok, bla-bla-bla. Kenapa di Indonesia nggak ada serial televisi ya, yang satu cerita langsung dihabisin di satu episode aja? Oh iya, satu lagi yang bikin gue semakin eneg: kenapa sih, frame adegan-adegan sinetron itu semuanya HARUS close-up para karakternya? Perhatiin deh…

Sorii banget kalo gue nggak bisa ngobrol banyak kali ini. Gue ada appointment soalnya habis ini.  Semoga lain kali gue bisa ‘berkicau lagi’…

Dag!

Jez sum random thought of mine

•20 March, 2009 • Leave a Comment

Ron Harry Hermione

Harry Potter, Ron Weasley, and Hermione Granger. Okay, who has never heard of them before? Raise your hand please. *LOL*

In case you have no idea (or probably forget) who these lads are, Harry, Ron, and Hermione are the heroes from the famous Harry Potter books and movies. They first meet in Hogwarts Express (which is on its way towards Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry), then later befriend.

I always like this concept of solid-friendship-between-boys-and-girls the author offered. However, in the end of HP series, Ron and Hermione finally end up being a couple. Harry himself, he finally marries Ron’s younger sister Ginny Weasley.

Is it true that friendship often ends in love, but love ends in friendship – never just like what Charles Caleb said? Moi, je laisse tomber.

Guess I just happen to have this sort of friendship. My two closest friends are *boys*, though their chemistry is unlike Harry and Ron’s. Until this moment, the friendship of the three of us are still running smoothly.

Well I just hope this friendship will still remain as it is. This pic will help me in doing that, naturally. *viewing the picture, crossing fingers*

Hati-hati kalo mikir!

•10 March, 2009 • 1 Comment
Words in my mouth
Someone told me to say
They go unspoken
My mind gets in the way
I hold my tongue
Save my, save my soul
True to myself
And stay gold

(Mr. Big – Take Cover)

Semuanya bermula ketika salah satu dosen gue ultah 27 Februari kemarin. Sebagai kado ultah, beliau meniadakan satu sesi kuliah bahasa hari itu dan diganti dengan casual talk. Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai Law of Attraction. Intinya, semua yang terjadi di sekililing kita itu sebenernya berasal dari pikiran kita sendiri. Contoh, kalo dari awal bangun tidur aja kita udah berpikir bahwa hari itu bakalan nyebelin, ya jadinya bener nyebelin. Ato kalo misalnya lagi memikirkan sesuatu (or it just popped out), dan tahu-tahu kejadian beneran… that is.

Salah tiga orang terdekat gue pernah bilang, kalo pikiran gue terhitung cepet banget ‘menarik’ segala sesuatu yang ada di sekeliling gue dibandingkan manusia-manusia lainnya. Awalnya sih gue ketawa-ketawa aja karena toh gue nggak merasa seperti itu. Namun beberapa kejadian yang terjadi beberapa hari belakangan ini seolah memaksa gue untuk mengakui kalau mereka memang bener-bener orang terdekat gue yang bahkan sampai tahu hal sekecil itu! (they’re right!)

Just check ‘em out…

Continue reading ‘Hati-hati kalo mikir!’

Skripsi, non-skripsi, skripsi, non-skripsi…

•12 February, 2009 • 4 Comments

She moves like she don’t care
Smooth as silk, cool as air
Ooh it makes you wanna cry
She doesn’t know your name
And your heart beats like a subway train
Ooh it makes you wanna die

(Blondie – Maria)

Helllooo world!!!

Saat ini gw sedang duduk manis di warnet, melepaskan ketegangan sejenak (baca: buka ini, baca ini, dan ngurus ini) setelah kuliah. Well, ‘ketegangan’ sebenarnya bukan merupakan penggambaran yang tepat kalau ditilik dari jadwal kuliah hari ini, karena gw kuliah cuman dari jam setengah 8 sampe jam 9 *saja* terus langsung capcus ke kosan. Indah bukan hidup gw? *Hohoho* Hanya saja, jika mau dikaitkan dengan jadwal kuliah gw selama 3 hari sebelumnya yang sangat tidak ramah (mulai jam setengah 8 kelar jam 4), agaknya penggambaran gw lumayan pas :P

Eniwei, sekarang gw sudah masuk semester 6. Kuliah gw pada awalnya agak berantakan karena jadwal matkul-matkul pilihan yang tabrakan (atau sengaja ditabrakin?) sama mata kuliah wajib jurusan. Hampir aja gw ngambil 10 SKS doang T_T

Begitu jadwal udah fixed, masalah berikutnya menghadang. Yap, masalah khas mahasiswa tahun ketiga kampus gw: skripsi atau non-skripsi?

Gara-gara masalah ini, anak-anak Prancis 06 terbagi jadi 5 kubu: 1) yang sudah positif skripsi tentang sejarah Prancis, 2) yang sudah positif skripsi tentang kesusastraan Prancis, 3) yang sudah positif skripsi tentang linguistik Prancis, 4) yang sudah positif non-skripsi, dan 5) yang masih bimbang mau skripsi atau non-skripsi. Gw masuk kubu terakhir.

Sebenernya skripsi atau non-skripsi sama aja. Ntar juga sama-sama bisa lulus, dapet ijazah, jadi sarjana humaniora, dan bisa lanjut ke S2 (amin!) juga. Bedanya cuman satu pake skripsi, satunya enggak *bukannya dah jelas yaa?* Skripsi atau non skripsi juga nggak bakal ngaruh sama waktu kelulusan, karena toh gw lulusnya bakalan telat juga, apapun jalur yang gw pilih. Kalopun akhirnya gw ntar milih jalur skripsi sebagaimana mahasiswa pada umumnya, mungkin skripsinya yang berkaitan sama kesusastraan. Toh kalopun gw nantinya milih non-skripsi, ya konsekuensinya S2 harus di dalam negeri dan bikin tesisnya lebih rebek.

Skripsi atau non skripsi yaa?? Minta saran doong!!!!