Hati-hati kalo mikir!

Words in my mouth
Someone told me to say
They go unspoken
My mind gets in the way
I hold my tongue
Save my, save my soul
True to myself
And stay gold

(Mr. Big – Take Cover)

Semuanya bermula ketika salah satu dosen gue ultah 27 Februari kemarin. Sebagai kado ultah, beliau meniadakan satu sesi kuliah bahasa hari itu dan diganti dengan casual talk. Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai Law of Attraction. Intinya, semua yang terjadi di sekililing kita itu sebenernya berasal dari pikiran kita sendiri. Contoh, kalo dari awal bangun tidur aja kita udah berpikir bahwa hari itu bakalan nyebelin, ya jadinya bener nyebelin. Ato kalo misalnya lagi memikirkan sesuatu (or it just popped out), dan tahu-tahu kejadian beneran… that is.

Salah tiga orang terdekat gue pernah bilang, kalo pikiran gue terhitung cepet banget ‘menarik’ segala sesuatu yang ada di sekeliling gue dibandingkan manusia-manusia lainnya. Awalnya sih gue ketawa-ketawa aja karena toh gue nggak merasa seperti itu. Namun beberapa kejadian yang terjadi beberapa hari belakangan ini seolah memaksa gue untuk mengakui kalau mereka memang bener-bener orang terdekat gue yang bahkan sampai tahu hal sekecil itu! (they’re right!)

Just check ‘em out…

  • Gue sedang mencari data tentang postgraduate scholarship di beberapa universitas luar negeri. Setelah searching beberapa lama, gue memutuskan kalau gue akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa melanjutkan kuliah ke sini. Hanya saja, gue masih benar-benar buntu soal bagaimana perlakuan universitas ini terhadap postgraduate applicant yang lulus lewat jalur non skripsi karena gue sudah harus kerja kelompok dengan Cuni dan Dimas. Setelah beberapa lama, kami bertiga akhirnya menyerah karena materi yang harus dipelajari terlalu ‘berat’ untuk otak kami yang capek karena sudah dipakai seharian. Kami bertiga kemudian memilih untuk mengobrol saja. Saat itu, gue bertanya kepada Dimas soal rencananya setelah lulus lewat jalur non skripsi (dia sudah positif non skripsi). Dimas menjawab kalau dia kemungkinan akan melanjutkan ke universitas di Australia yang sama dengan kakaknya (yang hidupnya sepertinya indah banget: S1 di Indonesia lulus jalur non skripsi, S2 di Australia lulus jalur non tesis). Begitu gue tanya nama kampus kakaknya, si Dimas menyebut nama kampus yang gue ‘incar’.
  • Weekend kemarin, gue jalan-jalan ke Kota Tua naik Transjakarta dari Blok M. Sepanjang perjalanan, gue memikirkan teman-teman satu jurusan gue. Gue memikirkan apa yang sedang dilakukan dua orang teman gue yang bernama Ai dan Nadia, memikirkan kata-kata Dimas soal rencananya setelah lulus, bertanya-tanya kenapa Rio sering absen, dan memikirkan penilaian Ibnu tentang gue. Ketika bus berhenti di salah satu halte, masuklah segerombol anak berseragam putih-biru yang… yah, bisa dikatakan cukup berisik. Mayoritas dari mereka perempuan. Laki-lakinya hanya tiga orang. Mereka berebut tempat duduk dalam bus, namun tidak semuanya kebagian. Salah seorang anak perempuan yang mendapat tempat duduk bertanya kepada temannya yang lain, “Eh, si Ai dimana?” Lalu oleh temannya dijawab, “Tuh masuknya belakangan sama si *menyebut nama temannya*” Selama beberapa menit kemudian mereka sibuk ketawa-tawa. Perhatian gue lalu jatuh kepada anak perempuan di depan gue yang duduk sambil mainan hape. Temannya yang duduk di sebelahnya lalu berkata, “Nadia, gue pinjem hapenya bentar dong!” Si pemilik hape langsung merespon, “Aduuuh, bentar Putri! Ini hape masih gue pake!” Lalu gue langsung tersadar bahwa tiga orang anak laki-laki yang ada di gerombolan anak SMP itu seperti versi SMP dari Dimas, Rio, dan Ibnu.
  • Waktu gue mau berangkat kuliah, jalanan yang biasa gue lewati dari kosan hari itu sedang terik dan silau. Gue lalu memutuskan untuk lewat jalan alternatif yang tidak terlalu panas. Lewatlah gue di depan kosan salah satu senior gue, Akmal. Gue melirik sekilas, tak ada tanda-tanda kehidupan di kosannya. Pasti udah berangkat, pikir gue. Tiba-tiba, bayangan figur Akmal yang memakai kemeja coklat kotak-kotak popped out di kepala gue. Gue lantas meneruskan perjalanan. Saat gue mau menyebrang dari Stasiun UI hendak ke kampus, gue secara tak terduga berpapasan dengan Akmal yang memakai kemeja kotak-kotak warna biru.
  • Waktu gue sedang kerja kelompok di perpus masih dengan Cuni dan Dimas, gue diserahi tugas mengetik karena otak gue nggak nyampe *hehehe*. Karena merasa bahannya kurang, Dimas pergi mencari buku, sementara Cuni menemui salah satu temennya yang lagi ada di perpus. Sambil menunggu mereka balik, gue iseng membaca majalah yang tergeletak tak berdaya di meja sebelah. Majalahnya terbitan lama sih, 2006. Saat itulah bayangan tentang bekas gebetan gue popped out, entah kenapa. Begitu gue baca halaman cover story, gue terperanjat. Si coverboy lahir pada tanggal yang sama dengan bekas gebetan gue, dan mereka mengambil jurusan yang sama pula. Parahnya lagi, riwayat hidup mereka juga ternyata mirip-mirip! Seketika itu juga, majalahnya langsung gue tutup dan nggak gue buka-buka lagi.

Sebenernya masih banyak banget pengalaman gue, cuman tentu aja nggak bisa gw share semuanya…

Wah, sepertinya gue memang kudu berhati-hati kalau memikirkan sesuatu nih. Bener kata orang, mending mikir yang bagus-bagus aja, even though the others would find you unrealistic.

Ada yang pernah punya pengalaman yang sama, nggak? If so, you’re welcome to share!

~ by puteriputri on 10 March, 2009.

2 Responses to “Hati-hati kalo mikir!”

  1. blehhhh………………..

    bleh nal gak???

    http://itsnainkhacong.blogspot.com/

    YM : itsnain_bkl


    PUTERIPUTRI REPLIED:

    yupsss, boleh…

  2. waduh

Leave a Reply