This is my passion, what’s yours?

I can still recall our last summer
I still see it all
In the tourist jam, round the Notre Dame
Our last summer
Walking hand in hand

(ABBA – Our Last Summer)

Tiap manusia pasti punya passion *aduh, apa padanan Bahasa Indonesianya ya?* sendiri. Ada yang passion terbesarnya di musik sehingga bisa panik dan marah setengah mati kalau gitar dan pianonya tergores dikit, tapi adem ayem waktu pacarnya jatuh dari motor. Ada yang passion terbesarnya di politik, jadinya kalau ngomongin soal politik, politikus tenar aja mulutnya kalah berbusa. Oke, udah mulai lebai. Revenons à nos moutons. Kembali ke laptop jalan yang benar.

Kalau aku, passion terbesarku ada di language. Langue. Bahasa. Oke, mungkin itu cukup menjelaskan kenapa aku mantap meminang milih jurusan Bahasa & Kebudayaan. Mungkin kalau masuk Psikologi, Komunikasi, atau HI *yang merupakan incaran kebanyakan temanku selama SMA*, think I’d still survive. Tapi lain halnya kalau aku masuk Manajemen atau Akuntansi. Aku liat banyak banget angka dalam satu halaman aja udah langsung migrain *ini serius*, gimana mau bertahan di sana, coba?

I love learning languages sooooo bad, sampai kadang aku merasa passion aku terlalu besar. How come? Let me explain.

Biasanya, yang terlintas dalam benak orang-orang kalau udah nyebut ‘mempelajari bahasa’ adalah mempelajari bahasa-bahasa seperti Mandarin, Jepang, Jerman, dan kawan-kawannya yang umum dipelajari.

Buatku, ‘mempelajari bahasa’ artinya tidak sebatas itu. Belajar bahasa daerah lain seperti misalnya Sunda atau Padang, itu juga belajar bahasa. Jujur, aku bahkan nggak bisa bahasa Jawa… although I’m ethnically Javanese. Belajar bahasa-bahasa luar lainnya yang kurang ‘bergaung’ disini, kayak bahasa Finlandia atau Turki, itu juga belajar bahasa, kan? Kalo perlu, bahasa HTML aku sikat juga tuh… :P

Temen-temenku yang sesama anak rantau selalu ketawa (KETAWA, Man!) kalau aku bilang pengen belajar bahasa daerah mereka *ini serius*. Kata mereka, “Buat apa sih belajar bahasa daerah? Aneh lo!”

Teman-teman yang lain juga melontarkan pernyataan senada waktu aku dengan asbunnya bilang kalo pengen belajar bahasa Swedia.

“Swedia? Kenapa nggak belajar bahasa yang lainnya aja sih, yang lebih normal?”

“Biar bisa pegi ke Stockholm, bikin grup vokal, nerusin jejaknya ABBA,” kataku dengan kalemnya *dan lagi-lagi asbun*

Aku sebenernya nggak setuju mereka make terminologi ‘normal’. Kesannya kayak bahasa yang pengen aku pelajari itu merupakan new invention yang masih belum sempurna sehingga dianggap abnormal. ‘Normal’ disini kayaknya sudah mulai mengalami pergeseran makna, sama seperti ‘autis’.

Sering denger (atau mungkin ngomong) kan, yang seperti ini: “Hah? Lo ngapain ke mall sendirian? Autis banget sih lo!”

Umm, hello? Masalah kebahasaan lagi nih. Memang para speaker itu tahu apa makna sebenarnya dari autis? Memang mereka pernah lihat seperti apa orang autis itu? Memang mereka pernah punya kenalan atau orang dekat yang divonis autis? Memang mereka pernah ikut repot menangani orang autis?

Mereka yang menjawab tidak untuk pertanyaan-pertanyaan ini, buat aku sama aja kayak anak bayi yang baru belajar ngomong. Asal jeplak padahal nggak tahu artinya.

Waduh, mulai OOT nih. Sampai dimana kita tadi?

Buatku, there’s an overwhelming sentiment kalau misalnya kita bisa sukses berkomunikasi dengan orang lain yang beda bahasa ibu dengan kita, apalagi kalau bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris. Ngomongnya pake bahasa apa? It’s English being the lingua franca, of course. Bisa sekalian belajar.

Seru aja rasanya. Punya temen Kita bisa sekalian belajar budaya negara lain karena kalau ketemu orang beda negara, pertanyaan-pertanyaan seperti ini pasti nggak terelakkan: “Di tempatku kita biasanya begini nih. Di tempatmu gimana?” Masalah cultural ikut kebawa deh. :)

Nggak perlu lewat penpal, lewat film atau lagu juga bisa. Lewat film India yang suka wara-wiri di TV pas aku masih SD, aku jadi tahu beberapa ungkapan India sedikit-sedikit sama kebiasaan mereka (menggeleng kalau bilang ‘Iya’, mengangguk kalau bilang ‘Tidak).

Dari telenovela yang suka ditonton sama si mbak, aku juga belajar banyak banget dasar-dasar Bahasa Spanyol. Akibatnya aku jadi bisa Bahasa Spanyol duluan daripada sodara serumpunnya yang aku geluti pas kuliah sekarang ini.

Jadi, apa passion kamu?

~ by puteriputri on 29 April, 2009.

2 Responses to “This is my passion, what’s yours?”

  1. wah! se hablo espanyol?
    hhihi, aku juga tertarik banget tuh belajar bahasa2..yang pasti sekarang lagi seneng ngedesign dan bikin iklan hhehee…..pengennya bergumul di ranah Advertising :P

  2. bahasa rules! x)


    PUTERIPUTRI REPLIED:

    Agree, indeed!

Leave a Reply