And so… bubbye, Cinderella!!
Si la poussière emporte tes rêves de lumière
Je serai ta lune, ton repère
Et si le soleil nous brûle, je prierai qui tu voudras
Pour que tombe la neige au Sahara
(Anggun – La Neige Au Sahara)
Beberapa hari yang lalu, aku terlibat pembicaraan dengan seorang kawan mengenai rencana masa depan. Kami mengobrol tentang apa yang ingin aku lakukan setelah lulus kuliah, dan tentang pekerjaan apa yang kira-kira akan dicari oleh temanku yang fresh graduate ini. Lantas kami saling bertukar pikiran tentang hambatan-hambatan apa yang mulai kami temui, dan cara kami menghadapinya pada saat-saat ini. Setelah mengobrol cukup lama, kami lantas sedikit bernostalgia mengenang masa-masa awal kami bertemu setahun silam.
Saat itulah kawanku tiba-tiba bilang, “Putri sekarang kayaknya udah balik kayak dulu lagi, ya?”
Aku tanya ke dia, “Maksudnya?”
Kawanku lantas ceritain semuanya. Kali pertama kami ketemu, di matanya (sekali lagi, di mataNYA) aku adalah gadis yang independen . Kayaknya aku betah banget melakukan segalanya sendirian. Ke mal sendirian. Nonton sendirian. Belanja bulanan yang kadang segitu banyaknya sendirian. Keliling kota sendirian, dan aku nggak pernah mengeluh untuk itu.
“Wah, beneran nih? Kalo menurutku, selama aku masih bisa melakukan semuanya sendiri, kenapa nggak? Toh kalau misalnya aku kerepotan sehingga butuh bantuan, aku pasti minta tolong. Lagipula, apa yang aneh dengan wanita lajang usia dua puluhan yang melakukan segalanya sendirian selama dia memang mampu?”
Kawanku melanjutkan. Itu termasuk salah satu sisi yang dulu menonjol dari aku. Untuk wanita seusiaku, aku termasuk independen, walau kadang-kadang suka kelewatan sehingga jatuhnya jadi terlihat individualis.
Lalu aku sempat dekat dengan dua orang, teman dari kawanku ini juga. Pada awalnya, semuanya berjalan normal-normal saja seperti layaknya sahabat yang kemana-mana bareng. Ironisnya, kata kawanku, “semakin kamu dekat dengan mereka, independensimu semakin terkikis. Aku melihat, lama-lama kamu jadi sangat dependen sekali ke mereka. Kamu nggak mau jalan kalau nggak ada mereka. Kamu nggak mau keluar kost kalau nggak ada mereka. Pokoknya duniamu hanya terpusat sama mereka. Begitu mereka sedikit jauh atau nggak ada saat kamu butuh, kamu hancur. Kayak orang lagi sakaw.”
Aku diam saja, cuman berani melihat lantai.
“Sekarang kamu lagi renggang sama mereka berdua, sehingga kamu harus kembali melakukan semuanya sendirian. Dan ternyata kamu sudah tidak sefasih dulu dalam mengerjakan semuanya sendirian. Aku liat kamu bahkan kayaknya nggak siap kalau kamu dengan mereka jadi nggak dekat lagi. Joan of Arc yang dulu aku liat, ternyata sekarang jadi Cinderella gara-gara kena Cinderella’s Syndrome.”
Lalu ada jeda.
Aku nggak mengucapkan sepatah kata pun. Diam-diam harus kuakui kalau kawanku memang benar.
“Now, look. There’s some things which we can’t always tag along with all the way. Sometimes we must let go of what we have. That’s a part of growing up, Putri. Now, as you’re twenty, like it or not, you’ve gotta learn to stand on your own two feet. You’ve gotta be independent woman… again! I want to see the girl that you used to be. A girl who is independent, dependable, and optimistic!”
“Kamu yakin aku perempuan yang seperti itu? Yang independen bla-bla-bla itu?”
Kawanku mengangguk pasti. “Sangat yakin. Keliatan kok dari awal kita ketemu. Dan sekarang aku pelan-pelan udah mulai ngeliat perempuan itu lagi.”
Now, that’s simply a wake-up call for me.
Tonight, I will tell Cinderella, “Off you go,” then I’ll release Jeanne d’Arc that I’ve been locking inside my cupboard for months.
Thank you, fella.





Hmm.. cukup menarik untuk diberi komen!
Jangan salah, bahkan bagi seorang Cinderella sekalipun.. sekarang Cinderella udah bawa Umbrella dan berani berkata, “You can stand under my umbrella.”
PUTERIPUTRI REPLIED:
Setuju! ^^